Emiten kontraktor pertambangan, minyak dan gas bumi (migas), PT Petrosea Tbk berkode saham PTRO ini dikabarkan baru saja mendapatkan kontrak baru proyek Onshore LNG Perimeter Construction Works dengan nilai mencapai Rp 989,17 miliar.
Sebagaimana yang dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan di Bursa Efek Indonesia, kontrak baru tersebut telah ditandatangani oleh PTRO melalui konsorsium Petrosea-ETI-Nindya yakni konsorsium yang dibentuk oleh PTRO bersama PT Enviromate Technology International dan PT Nindya Karya (Persero) dengan porsi kepemilikan saham PTRO dalam konsorsium tersebut tercatat mengenggam sebesar 36%
Penandatanganan kontrak yang ditujukan untuk proyek gas ‘jumbo’ Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku ini telah dilaksanakan pada 2 Maret 2026 lalu
Sekretaris Perusahaan Petrosea Anto Broto menjelaskan bahwa proyek ini murni kegiatan bisnis di sektor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan bukan merupakan transaksi afiliasi. Proyek ini akan dilaksanakan dengan estimasi jangka waktu penyelesaian selama 36 bulan kalender.
Adapun ruang lingkup pekerjaan konsorsium tersebut dalam proyek ini meliputi pengadaan material, pembangunan pagar keliling (perimeter fence & gate), jalan ekspansi umum (public expansion road), serta pembangunan jalan pengalihan yang mencakup penerangan jalan dan relokasi jaringan listrik eksisting.
Selain itu, terdapat juga ruang lingkup opsional pembangunan pioneering jetty (dermaga perintis) dan mini Intensive Vital Care Unit (IVCU).
Sebagai informasi, Proyek ini merupakan salah satu proyek pengembangan gas dan LNG strategis di Indonesia yang berperan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Adapun untuk peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek tersebut pada awalnya ditarget sebelum Idulfitri atau akhir Maret 2026.
Perolehan kontrak ini disebut akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kinerja Perseroan serta menjadi bagian dari upaya pengembangan usaha untuk memperkuat kapabilitas operasional Perseroan di sektor EPC.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong raksasa minyak dan gas bumi (migas) asal Jepang, Inpex Corporation, untuk mempercepat eksekusi proyek gas Lapangan Abadi Blok Masela.
Pemerintah memastikan proyek bernilai US$ 20 miliar atau setara Rp 339,4 triliun (asumsi kurs Rp 16.970 per US$) tersebut segera memasuki tahap keputusan investasi akhir.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengapresiasi kemajuan proyek pengembangan blok migas tersebut yang saat ini sudah mencapai sekitar 25%. Ia meminta Inpex untuk segera memajukan tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal kedua atau selambatnya kuartal ketiga 2026 agar tender Engineering Procurement Construction (EPC) bisa berjalan secara paralel.
Untuk mempercepat pencapaian target FEED tersebut, Bahlil memberikan solusi terkait kepastian penyerapan produksi gas alam cair (LNG) dari Lapangan Abadi Masela yang mencapai 9 juta ton per tahun (MTPA).
Ia menawarkan agar Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membeli pasokan gas tersebut untuk program hilirisasi jika Inpex belum mendapatkan pembeli serius hingga akhir April 2026.
Hal tersebut diungkapkan Bahlil dalam pertemuan dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda Inpex Corporation di Tokyo, Jepang.












































