PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) terus memperkuat kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar dengan membidik beragam proyek pembangunan nasional.
Strategi tersebut dijalankan untuk menangkap peluang pertumbuhan permintaan pipa dari sektor infrastruktur, energi, hingga industri bernilai tambah.
Salah satu langkah ekspansi dilakukan melalui pembangunan Unit 7 di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut disiapkan untuk memperkuat portofolio produk pipa berdiameter lebih besar sekaligus meningkatkan kemampuan perseroan dalam memproduksi produk dengan nilai tambah dan margin yang lebih tinggi.
Corporate Secretary & Investor Relations ISSP Johanes W. Edward mengatakan fasilitas warehouse dan lini produksi pipa berdiameter hingga 8 inci di Unit 7 telah mulai beroperasi. Sementara itu, mesin untuk lini produksi pipa berdiameter hingga 20 inci masih dalam proses pengiriman.
Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, ISSP memiliki peluang untuk memproduksi sejumlah jenis pipa yang sebelumnya belum dapat dihasilkan secara internal. Ekspansi kapasitas ini juga dinilai sejalan dengan meningkatnya kebutuhan dari berbagai proyek pembangunan.
Menurut Edward, penguatan kapasitas produksi dilakukan bersamaan dengan upaya perseroan menangkap pertumbuhan permintaan dari sejumlah sektor. ISSP melihat peluang tersebut berasal dari berbagai proyek, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pengembangan industri.
Sejumlah sektor yang menjadi sasaran perseroan mencakup pembangunan Sekolah Rakyat, program perumahan, peternakan ayam, pusat data atau data center, penguatan ketahanan energi, kawasan industri, hingga proyek sistem irigasi dan penyediaan air bersih.
Di sektor energi, ISSP juga telah mengambil bagian dalam penyediaan pipa untuk proyek transmission pipeline Dumai–Sei Mangkei (DUSEM). Infrastruktur tersebut merupakan bagian dari pengembangan jaringan transmisi gas nasional.
Diversifikasi proyek dan sektor menjadi bagian penting dari strategi ISSP untuk memperluas basis pasar sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi. Langkah tersebut juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap segmen tertentu dengan memperluas variasi produk dan proyek yang digarap perseroan.
Strategi ekspansi tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja keuangan. Pada semester I 2026, ISSP membukukan pendapatan sebesar Rp2,84 triliun, meningkat 8,5% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tercatat lebih tinggi. Laba kotor ISSP naik 14,7% menjadi Rp597,6 miliar. Kondisi tersebut mendorong margin laba kotor meningkat menjadi 21,1% dari sebelumnya 19,9%.
Laba bersih perseroan juga tumbuh 12,7% secara tahunan menjadi Rp240,5 miliar. Peningkatan aktivitas proyek turut tercermin dari kenaikan persediaan, baik bahan baku maupun barang jadi, yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan produksi.
Peningkatan persediaan tersebut ikut mendorong kebutuhan modal kerja perseroan. Hingga akhir semester I 2026, ISSP mencatatkan total aset sebesar Rp10,4 triliun dengan liabilitas mencapai Rp4,6 triliun.
Di tengah ekspansi dan kebutuhan modal kerja yang meningkat, struktur keuangan perseroan masih relatif terjaga. Debt to Equity Ratio (DER) berada pada level 0,81 kali, sedangkan current ratio tercatat sebesar 205%.
Dengan kapasitas produksi yang terus diperluas, diversifikasi pasar, serta kondisi keuangan yang masih terjaga, ISSP berupaya menjadikan ekspansi Unit 7 sebagai salah satu penopang pertumbuhan bisnis sekaligus memperbesar perannya dalam rantai pasok proyek pembangunan nasional.














































