PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) tetap optimistis mampu mencapai target marketing sales sebesar sekitar Rp600 miliar sepanjang 2026, meskipun sektor manufaktur masih menghadapi tantangan dan pelemahan nilai tukar rupiah terus membayangi kondisi perekonomian nasional.
Perseroan menilai permintaan terhadap kawasan industri masih menunjukkan ketahanan, terutama dari sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi seperti pusat data (data center), logistik, pergudangan, hingga industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B).
Sekretaris Perusahaan BEST Herdian mengungkapkan, hingga kuartal I/2026 perseroan telah membukukan penjualan lahan industri seluas 2 hektare dengan nilai marketing sales sekitar Rp55 miliar. Capaian tersebut dinilai masih sejalan dengan target perusahaan untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski mengakui minat investasi ke kawasan industri mengalami perlambatan, BEST belum melakukan revisi terhadap target marketing sales tahun ini.
Menurut Herdian, aktivitas penjajakan investasi masih berlangsung, terutama dari pelaku usaha di sektor data center, pergudangan dan logistik, termasuk fasilitas cold storage, serta industri makanan dan minuman.
Berkaca pada kondisi tersebut, perseroan terus menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dengan memfokuskan upaya pada sektor-sektor yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan paling menjanjikan.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah dipandang berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi bagi investor asing. Namun demikian, BEST menilai keputusan investasi tidak semata-mata ditentukan oleh faktor kurs.
Menurut perseroan, Investor juga mempertimbangkan berbagai aspek lain, seperti kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, kemudahan berusaha, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, faktor lokasi kawasan industri, kedekatan dengan rantai pasok, biaya konstruksi, akses transportasi, hingga kualitas pengelolaan kawasan turut menjadi pertimbangan utama dalam menentukan investasi.
Saat ini, pipeline investasi BEST masih didominasi oleh sektor data center, logistik dan pergudangan, makanan dan minuman, industri kemasan (packaging), serta sejumlah sektor manufaktur lainnya. Dari sisi asal investor, Jepang masih menjadi negara yang paling aktif melakukan investasi maupun ekspansi di kawasan industri MM2100. Selain itu, minat investasi juga datang dari perusahaan-perusahaan asal Indonesia, China, Korea Selatan, Timur Tengah, serta sejumlah negara di kawasan Asia.
Perseroan meyakini prospek sektor-sektor tersebut akan tetap positif seiring meningkatnya kebutuhan pengembangan kapasitas produksi, penguatan rantai pasok, serta percepatan transformasi digital yang mendorong permintaan terhadap kawasan industri berkualitas.
Untuk merealisasikan target marketing sales sebesar Rp600 miliar, BEST mengandalkan sejumlah strategi, mulai dari memperluas jaringan pemasaran melalui kerja sama dengan agen pemasaran dan konsultan properti industri hingga meningkatkan daya saing kawasan melalui penyediaan infrastruktur serta utilitas yang andal.
Perseroan juga mulai memperkenalkan BeFa Industrial Hub, sebuah produk pergudangan modern multifungsi yang dilengkapi fasilitas premium guna menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.
Memasuki paruh kedua 2026, BEST berencana memperkuat strategi akuisisi investor melalui peningkatan kualitas infrastruktur dan utilitas kawasan, transformasi layanan berbasis digital, serta fokus pada sektor-sektor yang masih bertumbuh, seperti data center, logistik, F&B, dan packaging.
Di saat yang sama, perseroan juga akan memperluas kolaborasi dengan agen pemasaran, konsultan properti industri, serta mempererat sinergi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan guna mempercepat realisasi investasi di kawasan MM2100.














































