PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus mengakselerasi pembangunan proyek angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan. Hingga September 2026, progres pembangunan proyek strategis tersebut telah mencapai sekitar 93 persen.
Proyek Tanjung Enim–Kramasan menjadi bagian penting dari strategi PTBA dalam memperkuat infrastruktur logistik sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi batu bara. Untuk mendukung pengembangannya, perseroan juga telah memperoleh term sheet pembiayaan senilai Rp3,56 triliun dari perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Bukit Asam Tbk, Una Lindasari, menyampaikan bahwa penguatan infrastruktur merupakan salah satu strategi utama perseroan untuk meningkatkan efisiensi dan mempertahankan daya saing bisnis. Hal tersebut disampaikannya dalam Public Expose Live PTBA yang digelar secara daring pada Senin (7/9/2026).
Fasilitas pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan, termasuk pembangunan coal handling facility (CHF) dan train loading station (TLS) 67. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan membuat sistem penanganan dan distribusi batu bara PTBA semakin terintegrasi.
PTBA terus mempercepat penyelesaian proyek beserta fasilitas pendukungnya agar mampu memperkuat rantai logistik batu bara dan memenuhi kebutuhan pelanggan secara lebih optimal.
Penguatan infrastruktur logistik menjadi semakin strategis seiring dengan upaya PTBA mengejar peningkatan produksi batu bara pada 2026. Perseroan menetapkan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekitar 53 juta ton untuk tahun ini.
Hingga semester I-2026, realisasi produksi batu bara PTBA tercatat 19,45 juta ton. Angka tersebut setara dengan sekitar 36,7 persen dari target RKAB tahunan. Sementara itu, penjualan batu bara mencapai 21,1 juta ton.
Meski realisasi produksi dan penjualan pada paruh pertama tahun ini masih sedikit di bawah target, manajemen tetap optimistis dapat meningkatkan capaian pada semester II. PTBA membidik realisasi produksi hingga mendekati 50 juta ton pada akhir 2026.
Dari sisi pasar, ekspor menjadi salah satu penopang pertumbuhan penjualan PTBA. Volume ekspor pada semester I-2026 mencapai 10,33 juta ton, naik sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi sejumlah negara tujuan utama ekspor batu bara perseroan.
Di pasar domestik, penjualan batu bara mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51 persen dari total penjualan PTBA. Kombinasi kinerja penjualan tersebut turut menopang pertumbuhan pendapatan perseroan.
Pada semester I-2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, tumbuh 7,73 persen secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan tersebut berjalan beriringan dengan lonjakan laba bersih yang mencapai Rp2,65 triliun, atau meningkat 218 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kinerja tersebut terutama ditopang oleh pemulihan aktivitas operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batu bara.
Dengan progres proyek Tanjung Enim – Kramasan yang telah mencapai sekitar 93 persen, PTBA kini berada pada tahap akhir pengembangan salah satu infrastruktur penting bagi sistem logistik batu bara perseroan. Penyelesaian proyek tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas distribusi sekaligus mendukung pencapaian target produksi dan penjualan hingga akhir tahun.











































