PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan pertumbuhan kinerja di sepanjang semester I/2026, seiring dengan mulai pulihnya permintaan semen nasional.
Pertumbuhan volume penjualan turut mendorong peningkatan pendapatan dan profitabilitas perseroan, meski industri semen masih dibayangi tekanan biaya produksi, kelebihan kapasitas, serta volatilitas nilai tukar.
Total volume penjualan semen dan klinker Indocement pada semester I/2026 mencapai 9,56 juta ton, meningkat 7,6% secara tahunan. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh penjualan domestik yang mencapai 9,09 juta ton atau tumbuh 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan ekspor mencatat pertumbuhan jauh lebih tinggi. Volume ekspor Indocement mencapai 473.000 ton, melonjak 99,7% secara tahunan. Lonjakan tersebut turut memperkuat total volume penjualan perseroan di tengah kondisi pasar domestik yang masih menghadapi kelebihan kapasitas.
Pertumbuhan volume penjualan kemudian tercermin pada kinerja keuangan. Pendapatan neto Indocement pada semester I/2026 mencapai Rp8,45 triliun atau naik 5,2% secara tahunan.
Dari sisi profitabilitas, pertumbuhan tercatat lebih tinggi. EBITDA meningkat 12,5% menjadi Rp1,52 triliun, sedangkan laba periode berjalan tumbuh 19,2% menjadi Rp589,6 miliar. Dengan demikian, pertumbuhan laba berjalan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, yang menunjukkan adanya perbaikan kinerja operasional dan efisiensi perseroan.
Pada periode yang sama, pangsa pasar domestik Indocement mencapai 28,1%. Posisi tersebut menjadi modal penting bagi perseroan untuk menangkap peluang pemulihan permintaan semen nasional, terutama dari sektor perumahan dan pembangunan infrastruktur.
Penguatan kinerja Indocement tidak berhenti pada semester pertama. Pada Juli 2026, volume penjualan perseroan mencapai sekitar 1,92 juta ton, tumbuh 13,3% secara tahunan. Dibandingkan Juni 2026, volume penjualan tersebut bahkan meningkat 18,6%.
Dengan tambahan volume pada Juli, total penjualan semen dan klinker Indocement selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai sekitar 10,32 juta ton. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pada Juli menjadi sinyal positif bagi perseroan memasuki paruh kedua 2026. Namun, peningkatan volume belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap profitabilitas karena biaya produksi dan distribusi masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu tekanan terbesar berasal dari biaya energi. Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo menyebut kenaikan harga batu bara dan solar industri sebagai faktor utama yang menekan biaya produksi industri semen. Penguatan dolar AS juga berpotensi meningkatkan biaya barang dan kebutuhan produksi yang masih bergantung pada impor.
Penggunaan batu bara non-DMO disebut memberikan dampak sekitar 18% terhadap biaya produksi, sementara kenaikan harga solar industri berdampak sekitar 4%. Kondisi tersebut membuat produsen semen memiliki ruang yang terbatas untuk menaikkan harga jual, terlebih persaingan harga masih ketat akibat kapasitas produksi nasional yang jauh di atas permintaan.
Secara industri, pemulihan permintaan mulai terlihat pada semester I-2026. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), penjualan semen domestik mencapai 30,71 juta ton atau tumbuh 10,5% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan permintaan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan struktural berupa kelebihan kapasitas. Kapasitas produksi semen nasional masih berada di kisaran 120 juta ton per tahun, sedangkan tingkat utilisasi baru sekitar 56%.
Situasi tersebut membuat pertumbuhan volume menjadi penting bagi produsen, tetapi pada saat yang sama meningkatkan kebutuhan untuk menjaga efisiensi. Bagi Indocement, pertumbuhan penjualan perlu diimbangi dengan pengendalian biaya agar peningkatan volume dapat tetap menghasilkan pertumbuhan laba.
Karena itu, perseroan menjadikan efisiensi sebagai salah satu prioritas utama memasuki semester II-2026. Indocement juga berupaya mempertahankan efisiensi tanpa mengurangi kualitas produk, keselamatan kerja, maupun nilai layanan kepada pelanggan.
Selain mengandalkan bisnis semen, Indocement memperkuat portofolio usaha turunan sebagai bagian dari strategi menghadapi dinamika industri. Salah satunya melalui pengembangan bisnis mortar bersama Saint-Gobain Group melalui PT Mortar Prakarsa Utama.
Perseroan juga membentuk PT Mondi Indo Prakarsa Kemasan bersama Mondi Industrial Bags GmbH. Perusahaan patungan tersebut diarahkan untuk memperkuat keandalan pasokan kantong semen sekaligus menjaga kualitas produk.
Penguatan bisnis turunan dan ekosistem pendukung menjadi bagian dari strategi Indocement untuk mengurangi ketergantungan terhadap penjualan semen sekaligus memperluas sumber pertumbuhan. Perseroan juga terus mendorong inovasi, digitalisasi, dan otomasi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Dari sisi bahan bakar dan bahan baku, peluang peningkatan penggunaan material alternatif turut menjadi perhatian. Langkah tersebut berpotensi membantu perseroan mengendalikan biaya sekaligus mendukung agenda keberlanjutan.
Memasuki sisa tahun 2026, Indocement masih melihat ruang pertumbuhan dari keberlanjutan pembangunan sektor perumahan dan infrastruktur. Program pembangunan tiga juta rumah per tahun menjadi salah satu katalis yang berpotensi meningkatkan permintaan semen.
Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembelian rumah hingga 2027 juga dipandang dapat memberikan dukungan terhadap permintaan sektor properti dan konstruksi.
Meski prospek permintaan mulai membaik, perseroan tetap menghadapi sejumlah risiko. Oversupply, kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, penerapan aturan over dimension over loading (ODOL), penyesuaian tarif listrik, hingga potensi penerapan pajak karbon masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi kinerja industri.
Dengan demikian, tantangan Indocement pada paruh kedua 2026 bukan semata-mata mempertahankan pertumbuhan volume, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut dapat dikonversi menjadi peningkatan profitabilitas.
Kinerja semester I-2026 menunjukkan arah yang cukup positif. Volume penjualan tumbuh 7,6%, pendapatan meningkat 5,2%, EBITDA naik 12,5%, dan laba periode berjalan melonjak 19,2%. Jika tren volume penjualan dapat dipertahankan dan tekanan biaya berhasil dikendalikan, Indocement memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan kinerja hingga akhir tahun.
Di tengah pasar semen yang masih oversupply, strategi efisiensi, diversifikasi bisnis, serta penguatan posisi di pasar domestik akan menjadi faktor penting bagi INTP untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempertahankan margin keuntungan.











































