Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan terdapat delapan perusahaan yang masuk dalam antrean pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga 22 Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan perusahaan dengan aset skala besar, mencerminkan potensi transaksi bernilai signifikan di pasar modal domestik tahun ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa dari delapan calon emiten tersebut, lima perusahaan tergolong beraset skala besar, sementara tiga lainnya merupakan perusahaan beraset skala menengah. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan komposisi tersebut.
Berdasarkan sektornya, dua perusahaan berasal dari sektor basic materials, satu perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, dan satu dari sektor energi. Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor finansial, satu perusahaan sektor industrials, serta satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik.
Meski pipeline IPO mulai terisi, Nyoman mengungkapkan bahwa sejak awal tahun hingga 22 Februari 2026 belum terdapat perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI.
Di sisi lain, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen surat utang menunjukkan pergerakan yang lebih aktif. Hingga 22 Februari 2026, tercatat sebanyak 20 emisi obligasi telah diterbitkan oleh 13 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp15,71 triliun.
Sementara itu hingga 20 Februari 2026, terdapat 30 emisi dari 21 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline. Dari sisi sektoral, dua perusahaan berasal dari sektor basic materials, satu dari sektor consumer non-cyclicals, empat dari sektor energi, sepuluh dari sektor finansial, satu dari sektor industrials, dan tiga dari sektor infrastruktur.
Untuk aksi korporasi rights issue, BEI mencatat tiga emiten telah merealisasikan penerbitan saham baru dengan total nilai Rp3,75 triliun. Selain itu, saat ini terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang berada dalam pipeline rights issue.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski pencatatan saham baru masih menanti realisasi, aktivitas pasar modal melalui instrumen utang dan aksi korporasi lainnya tetap berjalan dinamis pada awal 2026.



















































