PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mencatatkan produksi listrik tertinggi sepanjang sejarah perusahaan pada 2025. Ke depan, anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut menargetkan peningkatan produksi guna kembali mencetak rekor baru pada 2026.
Sepanjang 2025, perseroan membukukan total produksi listrik sebesar 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55% secara tahunan dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 4.827 GWh.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa perusahaan terus memperkuat langkah untuk menjadi produsen panas bumi kelas dunia. Menurutnya, PGEO tidak hanya berupaya meningkatkan kapasitas terpasang, tetapi juga menargetkan pengakuan global sebagai pusat keunggulan (center of excellence) di sektor panas bumi.
Ia menjelaskan bahwa melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang dijalankan secara konsisten, perusahaan optimistis dapat kembali mencatatkan produksi tertinggi pada 2026. Perseroan memproyeksikan produksi listrik mencapai sekitar 5.255 GWh atau tumbuh sekitar 3,14% secara tahunan.
Target tersebut, lanjutnya, didukung oleh upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja operasional serta mengoptimalkan kapasitas pembangkit panas bumi yang dikelola perusahaan.
Saat ini, PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, sebesar 727 MW dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGEO, sementara 1.205 MW dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGEO tersebut berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional. Selain itu, pemanfaatan energi panas bumi dari wilayah kerja tersebut diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga sekitar 10 juta ton CO₂ per tahun.
Dalam rencana pengembangan ke depan, terdapat empat proyek PGEO yang telah masuk dalam Blue Book 2025–2029 yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas. Proyek tersebut meliputi Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Total nilai investasi untuk keempat proyek tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$1,09 miliar.
Realisasi proyek-proyek tersebut diproyeksikan dapat menambah kapasitas listrik rendah emisi sebesar 215 MW yang direncanakan mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2029 hingga 2032. Dalam jangka panjang, PGEO juga menargetkan pengembangan potensi panas bumi hingga mencapai 3 gigawatt (GW).
Dari sisi kinerja keuangan, sepanjang 2025 PGEO membukukan pendapatan sebesar US$432,73 juta dengan laba bersih mencapai US$137,67 juta. EBITDA perseroan tercatat sebesar US$330,35 juta. Sementara itu, total aset perusahaan mencapai US$3,03 miliar dengan posisi kas dan setara kas sebesar US$718,50 juta.
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy, Yurizki Rio, menjelaskan bahwa fase transformasi yang tengah dijalankan perusahaan, termasuk upaya memperluas portofolio bisnis, berdampak pada penurunan margin EBITDA secara terbatas. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai sebagai bagian dari fondasi penting untuk pertumbuhan jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari investasi strategis perusahaan untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat pengembangan usaha di masa mendatang. Saat ini, PGEO juga berfokus pada berbagai proyek quick win yang bertujuan meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendorong ekspansi bisnis sekaligus memperkuat kinerja keuangan perusahaan secara berkelanjutan.



















































