Kawasan industri Subang Smartpolitan yang dikelola emiten properti, PT Surya Semesta Internusa Tbk mencatatkan langkah penting dalam penguatan sektor manufaktur tekstil nasional.
Tiga perusahaan tekstil secara resmi memulai pembangunan fasilitas manufaktur vertikal di kawasan tersebut menandai peningkatan investasi sekaligus integrasi rantai pasok industri fashion.

Ketiga perusahaan tersebut di antaranya yaitu :
- PT Binkova Textiles Indonesia yang bergerak di bidang industri tekstil, khususnya segmen pencelupan dan penyempurnaan kain (dyeing and finishing).
- PT Dafei Textile Indonesia yang bergerak di bidang industri tekstil, khususnya pada lini produksi kain melalui proses tenun (weaving) dan rajut (knitting).
- PT Serendipity Fashion Indonesia yang bergerak di bidang manufaktur garmen atau Tier 1 dalam industri tekstil dan pakaian jadi.
Chief Commercial Officer Subang Smartpolitan, Abednego Purnomo menjelaskan bahwa ketiga perusahaan tersebut merupakan mitra bisnis dari merek fesyen global H&M, sehingga pembangunan fasilitas ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri fesyen internasional.
Adapun total nilai investasi yang dikucurkan ketiga investor tersebut pada proyek ini mencapai sekitar US$60 juta atau setara dengan Rp1 Triliun (kurs Rp17,210). Selain memperkuat kapasitas industri, proyek ini juga diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja antara 3.000 hingga 3.800 orang.
Tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung di dalam pabrik, Ia menambahkan bahwa kehadiran fasilitas industri tersebut juga berpotensi membuka peluang kerja turunan di sektor pendukung seperti logistik, katering, dan layanan lainnya di sekitar kawasan.
Direktur PT Binkova Textiles Indonesia, Sun Jianjun, menilai keputusan untuk membangun fasilitas manufaktur vertikal di Indonesia sebagai langkah strategis dalam meningkatkan daya saing sebagai pemasok global.
Ia menilai Subang Smartpolitan memiliki keunggulan lokasi yang strategis dengan dukungan infrastruktur terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan efisiensi logistik dan konektivitas.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan berkomitmen menghadirkan teknologi manufaktur modern guna memastikan efisiensi operasional serta keterlacakan (traceability) produk yang sesuai dengan standar keberlanjutan internasional dan persyaratan perdagangan global.
Investasi ini diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan nilai tambah industri tekstil nasional.
Pembangunan fasilitas manufaktur tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026, dengan operasional produksi penuh akan dimulai setelahnya.
Seluruh fasilitas ini akan memproduksi berbagai produk fesyen yang ditujukan untuk pasar global, termasuk memenuhi kebutuhan H&M sebagai mitra utama.
Sebagai informasi, PT Surya Semesta Internusa Tbk sebagai pengelola kawasan industri tersebut merupakan salah satu emiten yang bergerak di bidang pengembangan kawasan industri & real estate, konstruksi serta perhotelan berdasarkan profil perusahaan di Bursa Efek Indonesia.
Didirikan sejak 15 Juni 1971, perusahaan ini telah memiliki pengalaman selama lebih dari 50 tahun di dunia bisnis properti.
Dan hingga saat ini, SSIA telah memperkuat pengakuan dan posisi brandnya sebagai salah satu perusahaan pengembang terkuat di Indonesia yang telah memiliki beragam portofolio investasi.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman websitenya, Portofolio investasi SSIA di antaranya yaitu Suryacipta City of Industry, Subang Smartpolitan, Edenhaus Simatupang, Graha Surya Internusa (akan dibangun kembali sebagai SSI Tower), Hotel Gran Melia Jakarta, Melia Bali Hotel, Umana Bali, LXR Hotels & Resorts, dan BATIQA Hotels.










































