Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menunjukkan keyakinan terhadap pencapaian target penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sepanjang 2026, meskipun hingga awal April baru satu perusahaan yang resmi melantai di bursa.
Optimisme tersebut disampaikan Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna, yang menegaskan bahwa minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal masih terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Ia menyebutkan bahwa sepanjang tahun ini, BEI menargetkan total 555 pencatatan efek, termasuk 50 perusahaan baru melalui IPO.
Dari target tersebut, sejumlah di antaranya merupakan perusahaan dengan skala besar atau lighthouse company yang diharapkan mampu menjadi pendorong likuiditas dan daya tarik pasar. BEI juga memperkirakan total pencatatan efek pada 2026 akan melampaui capaian tahun sebelumnya, dengan potensi peningkatan lebih dari 50% dibandingkan realisasi 2025, meskipun angka pastinya masih menunggu respons otoritas terkait.
Hingga 10 April 2026, PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) tercatat sebagai emiten pertama yang melakukan IPO tahun ini. Di sisi lain, terdapat 13 calon emiten yang saat ini berada dalam antrean pencatatan saham di BEI.
Nyoman menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari beragam sektor, mulai dari keuangan, energi, hiburan, hingga barang konsumsi. Ia menambahkan bahwa seluruh calon emiten tersebut ditargetkan dapat melaksanakan IPO paling lambat pada Juni 2026, dengan sebagian besar merupakan kelanjutan dari proses yang telah dimulai sejak tahun sebelumnya.
Dengan pipeline yang masih terjaga dan minat korporasi yang relatif tinggi, BEI menilai peluang untuk mencapai target IPO tahun ini tetap terbuka, seiring dengan upaya menjaga momentum pasar modal di tengah ketidakpastian global.












































