Memasuki usia ke-65 tahun, PT Hutama Karya (Persero) menunjukkan fase kematangan bisnis yang ditandai dengan kinerja keuangan solid dan transformasi model usaha yang semakin terarah.
Di tengah mandat pembangunan infrastruktur nasional yang terus berjalan, perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sekaligus menurunkan beban utang secara signifikan.
Berdasarkan laporan keuangan audited tahun buku 2025, Hutama Karya membukukan laba bersih sebesar Rp3,09 triliun atau meningkat 11,6% secara tahunan. Pada saat yang sama, total liabilitas berhasil ditekan sebesar 17,4% menjadi Rp47,92 triliun dari yang sebelumnya Rp58,04 triliun.
Pertumbuhan ini dicapai di tengah konsolidasi pendapatan usaha, mencerminkan efektivitas strategi efisiensi operasional dan disiplin dalam pengelolaan beban keuangan. Laba usaha tercatat sebesar Rp2,74 triliun atau naik 10,2% secara tahunan, sementara beban keuangan turun 24,5% menjadi Rp1,24 triliun.
Manajemen menilai capaian tersebut sebagai hasil dari transformasi menyeluruh yang dijalankan secara konsisten. Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro menyampaikan bahwa pertumbuhan perusahaan difokuskan pada ekspansi yang tetap memperhatikan mitigasi risiko, sehingga kualitas kinerja tetap terjaga dalam jangka panjang.
Dari sisi struktur permodalan, ekuitas perusahaan meningkat 2,3% menjadi Rp141,18 triliun, tanpa adanya tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) baru sepanjang 2025. Total aset konsolidasi tercatat mencapai Rp189,10 triliun per akhir tahun.
Transformasi bisnis Hutama Karya juga tercermin dalam komposisi pendapatan. Segmen pengoperasian jalan tol menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 26,8% secara tahunan. Kontribusi segmen ini mencapai Rp17,33 triliun atau sekitar 68,9% dari total pendapatan eksternal sebesar Rp25,13 triliun.
Di sisi pengembangan proyek, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) semakin memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.
Di sepanjang 2025, perusahaan menandatangani proyek KPBU Flyover Panorama I Sitinjau Lauik di Sumatera Barat senilai Rp2,7 triliun. Sebelumnya, pada 2024, Hutama Karya juga memenangkan proyek KPBU Trans Papua Jayapura–Wamena dengan nilai Rp3,3 triliun.
Progres pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pun terus berjalan. Salah satu ruas, Betung–Tempino–Jambi Seksi 4, telah mulai beroperasi secara komersial pada September 2025.
Seiring perjalanan panjang sejak berdiri pada era kolonial sebagai Hollandsche Beton Maatschappij hingga menjadi badan usaha milik negara yang memegang mandat konektivitas Sumatera, Hutama Karya kini memasuki babak baru. Sejak Juli 2025, kepemilikan perusahaan resmi berada di bawah PT Danantara Asset Management (Persero).
Manajemen menegaskan bahwa peringatan 65 tahun bukan sekadar refleksi historis, melainkan momentum untuk membuktikan keberlanjutan peran perusahaan.
Hutama Karya dinilai masih relevan, produktif, dan dipercaya dalam menjalankan proyek-proyek strategis nasional yang menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur Indonesia.














































