PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) mencatatkan perolehan nilai kontrak baru sebesar Rp8,42 triliun hingga Juni 2026.
Di tengah tantangan industri konstruksi, emiten pelat merah tersebut juga berhasil membukukan lonjakan laba bersih hampir tiga kali lipat pada semester I/2026, meski pendapatan usaha mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menjelaskan, berdasarkan sumber pendanaannya, kontrak baru perseroan masih didominasi proyek pemerintah dengan kontribusi sebesar 73%. Sementara itu, proyek swasta menyumbang 15% dan proyek dari badan usaha milik negara (BUMN) sebesar 12%.
Dari sisi segmentasi, proyek jalan dan jembatan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 31% dari total kontrak baru. Selanjutnya, proyek tanggap darurat berkontribusi 21%, diikuti sektor smelter dan pertambangan sebesar 18%, rumah sakit 12%, gedung 11%, pelabuhan 3%, sumber daya air 2%, serta infrastruktur air sebesar 1%.
Di sisi kinerja keuangan, PTPP membukukan pendapatan usaha sebesar Rp5,95 triliun pada semester I/2026, turun 11,2% dibandingkan Rp6,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan pendapatan tersebut diikuti oleh berkurangnya beban pokok pendapatan menjadi Rp5,19 triliun dari sebelumnya Rp5,78 triliun. Namun demikian, laba kotor perseroan tetap mengalami penurunan 17,5% secara tahunan menjadi Rp760,76 miliar dari Rp922,13 miliar.
Meski demikian, laba bersih justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. PTPP mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp193,46 miliar pada semester I/2026, melonjak 196,5% dibandingkan Rp65,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut turut didukung oleh kenaikan selisih kurs akibat penjabaran laporan keuangan yang mencapai Rp51,10 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp3,91 miliar pada Juni 2025.
Selain itu, laba komprehensif tahun berjalan tercatat sebesar Rp68,4 miliar atau meningkat 24% secara tahunan. Menurut Joko Raharjo, kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya penghasilan komprehensif lain yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga 264,2% menjadi Rp247,6 miliar.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan sepanjang 2026, PTPP telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis. Perseroan akan kembali memfokuskan kegiatan pada bisnis inti konstruksi (back to core) disertai divestasi sejumlah aset tertentu.
Di saat yang sama, perusahaan juga memperkuat arus kas operasional melalui percepatan pencairan piutang usaha guna menjaga likuiditas. PTPP juga akan terus aktif memburu peluang proyek strategis, baik yang berasal dari pemerintah, BUMN, maupun sektor swasta yang dinilai memiliki prospek menjanjikan.
Selain itu, perseroan menegaskan akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memilih proyek dan mengelola portofolio usaha dengan mengedepankan manajemen risiko sebagai bagian dari strategi menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.














































