PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengambil langkah strategis dengan merencanakan penambahan kegiatan usaha baru guna mendukung pengembangan model bisnis Power as a Service (PaaS) pada infrastruktur menara telekomunikasi.
Sebagai entitas anak PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), perseroan akan memasukkan tiga Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru ke dalam anggaran dasar. Ketiga bidang tersebut meliputi pemasangan jaringan listrik, pengoperasian instalasi penyediaan tenaga listrik, serta penyediaan tenaga listrik dalam satu kesatuan usaha.
Langkah ini mencerminkan upaya Mitratel untuk memperluas peran dari sekadar penyedia infrastruktur menara menjadi penyedia layanan infrastruktur digital yang lebih terintegrasi. VP Investor Relations MTEL Alif Bajara menyampaikan bahwa ekspansi ini diharapkan dapat memperkuat posisi perseroan dalam ekosistem infrastruktur digital nasional.
Berdasarkan keterbukaan informasi, rencana penambahan lini bisnis tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai kini bersih (Net Present Value/NPV) sebesar Rp28,18 miliar, dengan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR) mencapai 11,90%. Sementara itu, periode pengembalian modal diperkirakan selama 7 tahun 8 bulan, dengan Return on Investment (ROI) sebesar 8,60%.
Secara kontribusi, pendapatan dari lini usaha baru ini diproyeksikan menyumbang sekitar 4,9% terhadap total pendapatan konsolidasi MTEL, dengan rata-rata margin laba bersih mencapai 9,6% sepanjang periode proyeksi 2026–2035.
Analis riset ekuitas Mirae Asset Sekuritas, Daniel Aditya, menjelaskan bahwa selama ini pasokan listrik untuk operasional Mitratel masih bergantung pada pihak ketiga, terutama PLN. Dengan masuk ke bisnis PaaS, perseroan dinilai berupaya membangun kemandirian dalam penyediaan energi untuk infrastruktur menara, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada eksternal.
Dari sisi pasar, Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham MTEL dengan target harga Rp760 per saham, yang mencerminkan valuasi EV/EBITDA sebesar 9,9 kali untuk tahun buku 2026. Meski pertumbuhan pendapatan dan EBITDA dinilai masih terbatas di tengah lemahnya permintaan menara, prospek laba yang stabil serta kondisi neraca keuangan yang solid menjadi daya tarik utama perseroan.
Ke depan, katalis pertumbuhan Mitratel diperkirakan berasal dari percepatan fiberisasi menara seiring ekspansi jaringan 5G oleh operator seluler, serta peningkatan permintaan terhadap layanan infrastruktur digital yang lebih terintegrasi.















































