PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) diproyeksikan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis di sepanjang tahun 2026 melalui kombinasi ekspansi jaringan gerai, penguatan penetrasi pasar di luar Pulau Jawa, serta peningkatan kontribusi penjualan dari kanal digital.
Prospek tersebut didukung oleh kinerja yang tetap solid pada awal tahun. Sepanjang kuartal I-2026, AMRT membukukan laba bersih sebesar Rp1,07 triliun, meningkat 10,29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan perseroan mencapai Rp35,24 triliun.
Analis OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, dalam risetnya menyebut manajemen AMRT menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran satu digit tinggi (high single digit) sepanjang 2026. Target tersebut ditopang oleh pertumbuhan penjualan gerai yang sama (same store sales growth/SSSG) sebesar 4% hingga 5%, pembukaan sekitar 1.000 gerai baru, serta peningkatan kontribusi penjualan melalui platform digital.
Dari total rencana ekspansi tersebut, sekitar 800 gerai akan menggunakan format Alfamart, 200 gerai Alfamidi, serta 30 hingga 40 gerai Dan+Dan.
Menurut Jessica, wilayah luar Jawa kini menjadi salah satu sumber pertumbuhan paling menjanjikan bagi perseroan. Kontribusi pendapatan dari kawasan tersebut meningkat menjadi 39,2% pada 2025, naik dari 36,7% pada tahun sebelumnya. Porsi tersebut bahkan telah melampaui kontribusi wilayah Jawa di luar Jabodetabek yang tercatat sebesar 36,8%.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi jaringan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Dalam periode lima tahun, jumlah gerai di luar Jawa tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 10,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jaringan perusahaan secara keseluruhan yang berada di level 6,8%.
Selain memperluas jaringan fisik, AMRT juga terus memperkuat ekosistem digitalnya. Kanal penjualan online dinilai semakin berperan dalam mendorong pertumbuhan pendapatan. Berdasarkan kajian OCBC Sekuritas, nilai transaksi rata-rata melalui platform digital saat ini mencapai dua kali lipat dibandingkan transaksi di gerai fisik.
Perseroan juga tengah mengevaluasi peluang monetisasi tambahan melalui penerapan biaya pengiriman guna membantu mengimbangi beban logistik yang timbul dari layanan digital.
Pandangan serupa disampaikan Analis UBS Sekuritas Indonesia, Alex Manoonpol. Ia mencatat manajemen menargetkan kontribusi penjualan online melalui aplikasi Alfagift dapat mencapai sekitar 10% dari total pendapatan pada akhir 2026. Target tersebut meningkat dibandingkan kontribusi sekitar 8% pada 2025.
Di sisi operasional, AMRT belum memiliki rencana untuk membangun pusat distribusi (distribution center/DC) baru dalam waktu dekat. Perseroan lebih memilih mengoptimalkan infrastruktur yang telah ada melalui renovasi fasilitas distribusi tertua di Cikarang serta melakukan perluasan kapasitas secara selektif di Jambi.
Strategi tersebut sejalan dengan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) grup yang diperkirakan berada pada kisaran Rp6 triliun hingga Rp6,5 triliun sepanjang 2026. Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembukaan gerai baru serta perpanjangan masa sewa lokasi usaha.
Dengan kombinasi ekspansi jaringan, penguatan pasar di luar Jawa, dan percepatan transformasi digital, AMRT dinilai memiliki fondasi yang kuat untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah persaingan industri ritel yang semakin dinamis.















































