PT Phapros Tbk (PEHA) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan pada paruh pertama 2026. Pertumbuhan penjualan yang diikuti penguatan margin serta perbaikan sejumlah pos keuangan mendorong laba bersih perseroan melesat lebih dari lima kali lipat secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Agustus 2026, emiten farmasi tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp15,29 miliar pada semester I-2026. Capaian ini melonjak 541% dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,83 miliar.
Kenaikan laba tersebut turut tercermin pada laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp18 per saham, dari sebelumnya hanya Rp3 per saham.
Dari sisi top line, penjualan neto Phapros mencapai Rp482,85 miliar sepanjang enam bulan pertama 2026. Nilai tersebut tumbuh 5,4% dibandingkan penjualan pada semester I-2025 yang sebesar Rp458,23 miliar.
Pertumbuhan penjualan tersebut dibarengi dengan beban pokok penjualan yang relatif terkendali. Beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp239,36 miliar, sehingga laba bruto perseroan meningkat menjadi Rp243,49 miliar dari Rp219,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, laba bruto tumbuh sekitar 10,8%.
Di tingkat operasional, Phapros masih menghadapi kenaikan beban usaha. Pos tersebut meningkat menjadi Rp200,19 miliar dari Rp180,94 miliar pada semester I-2025.
Namun, tekanan tersebut berhasil diimbangi oleh perbaikan pendapatan lain-lain. Pada semester I-2026, perseroan membukukan pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp250 juta, berbalik positif dibandingkan kerugian Rp3,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kombinasi kinerja tersebut membawa laba usaha Phapros menjadi Rp43,56 miliar, naik 24,2% dibandingkan Rp35,06 miliar pada semester I-2025.
Perbaikan juga terlihat pada kinerja keuangan perseroan. Penghasilan keuangan meningkat signifikan menjadi Rp1,26 miliar dari sebelumnya Rp340,79 juta. Di sisi lain, beban keuangan berhasil ditekan menjadi Rp22,87 miliar, dibandingkan Rp24,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut mendorong laba sebelum pajak Phapros meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp21,95 miliar, dari Rp10,67 miliar pada semester I-2025.
Setelah memperhitungkan beban pajak tangguhan sebesar Rp6,97 miliar, laba periode berjalan perseroan tercatat Rp14,97 miliar. Sementara itu, tidak terdapat beban pajak kini pada kedua periode pelaporan.
Dari sisi neraca, total aset Phapros per Juni 2026 mencapai Rp1,45 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp1,38 triliun. Adapun total liabilitas tercatat Rp1,01 triliun, sementara ekuitas mencapai Rp438,23 miliar.
Penguatan kinerja juga terlihat dari posisi likuiditas perseroan. Saldo kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 mencapai Rp162 miliar, meningkat tajam dibandingkan Rp51,48 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan pertumbuhan penjualan, penguatan laba operasional, serta peningkatan posisi kas, kinerja semester I-2026 menjadi sinyal positif bagi upaya Phapros menjaga momentum pertumbuhan di tengah persaingan industri farmasi yang semakin dinamis.













































