Jajaran direksi baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan target ambisius untuk mendorong pertumbuhan pasar modal nasional hingga tahun 2030.
Salah satu sasaran utama yang dicanangkan adalah meningkatkan jumlah perusahaan tercatat menjadi lebih dari 1.100 emiten melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Target tersebut disampaikan Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI yang berlangsung pada Senin (29/6/2026).
Menurutnya, peningkatan jumlah emiten merupakan bagian dari strategi besar untuk membawa BEI masuk dalam jajaran 10 bursa saham terbesar di dunia, baik berdasarkan kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi.
Jeffrey menjelaskan hingga akhir masa jabatan direksi pada 2030, BEI menargetkan jumlah perusahaan tercatat melampaui 1.100 emiten.
Adapun untuk rincian target penambahan emiten per tahun akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.
Saat ini, jumlah perusahaan yang telah tercatat di Bursa mencapai 957 emiten. Selain itu, enam perusahaan lainnya dijadwalkan melaksanakan IPO dan melantai di Bursa pada Juli 2026.
Untuk mencapai target tersebut, BEI mengandalkan berbagai reformasi pasar modal yang telah dijalankan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Reformasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kembali kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia sehingga penyerapan saham baru tidak hanya bergantung pada investor domestik.
Jeffrey menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan menciptakan struktur pasar yang lebih seimbang, dengan partisipasi investor asing, investor institusi domestik, serta investor ritel yang sama-sama aktif dalam mendukung likuiditas dan dinamika perdagangan di pasar modal Indonesia.
Selain menargetkan peningkatan jumlah emiten, BEI juga menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun pada 2030.
Peningkatan tersebut diharapkan didorong oleh semakin banyaknya perusahaan berkapitalisasi besar yang tercatat di Bursa, sehingga mampu memperluas basis investasi sekaligus memperdalam pasar modal nasional.
Menurut Jeffrey, kehadiran lebih banyak perusahaan berskala besar akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapitalisasi pasar, memperbesar jumlah investor, dan memperkuat posisi BEI di tingkat global.
Sebagai gambaran, kapitalisasi pasar BEI pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp15.849 triliun. Pada periode yang sama, nilai rata-rata harian transaksi saham (RNTH) mencapai Rp18,1 triliun, dengan jumlah perusahaan tercatat sebanyak 957 emiten dan total investor pasar modal mencapai 20,3 juta Single Investor Identification (SID).
Adapun rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 66,5%.
Melalui target-target tersebut, direksi baru BEI berharap dapat mempercepat pendalaman pasar modal Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing Bursa di tingkat internasional dalam lima tahun ke depan.












































