PT Sumber Global Energy Tbk. (SGER) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada semester I-2026 di tengah upaya memperluas sumber pendapatan di luar bisnis batubara. Meski pendapatan dari komoditas utama tersebut mengalami penurunan, pertumbuhan sejumlah segmen non-batubara turut menopang kinerja konsolidasi perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, SGER membukukan pendapatan bersih sebesar Rp4,33 triliun sepanjang Januari–Juni 2026. Angka tersebut meningkat 6,73% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan turut meningkat 5,62% YoY menjadi Rp4,03 triliun. Namun, pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan beban pokok berhasil mendorong laba kotor SGER naik 24,26% YoY menjadi Rp301,26 miliar.
Pada tingkat laba bersih, SGER mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp137,95 miliar. Capaian tersebut tumbuh 8,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kinerja juga tercermin dari sejumlah indikator profitabilitas. Marjin laba kotor atau gross profit margin (GPM) meningkat dari 5,98% menjadi 6,96%. Sementara itu, marjin laba bersih atau net profit margin (NPM) naik dari 3,13% menjadi 3,19%.
Kontribusi Batubara Menyusut, Segmen Non-Batubara Menguat
Di tengah pertumbuhan pendapatan konsolidasi, komposisi bisnis SGER mulai menunjukkan perubahan. Pendapatan dari segmen batubara, yang selama ini menjadi kontributor utama, mengalami penurunan pada semester I-2026.
Hingga akhir Juni 2026, pendapatan dari batubara tercatat sebesar Rp3,17 triliun, turun 5,12% YoY dari Rp3,34 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Akibatnya, kontribusi segmen ini terhadap total pendapatan perseroan menyusut dari 82,3% menjadi 73,2%.
Meski demikian, penurunan pendapatan batubara dapat diimbangi oleh pertumbuhan dari sejumlah segmen lain. Salah satu peningkatan terbesar berasal dari segmen pasir dan kapur, yang pendapatannya melonjak dari Rp1,90 miliar pada semester I-2025 menjadi Rp495,17 miliar pada semester I-2026.
Selain itu, segmen kokas minyak bumi mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan perseroan. Jika pada semester I-2025 segmen tersebut belum mencatatkan pendapatan, pada semester I-2026 nilainya telah mencapai Rp379,61 miliar.
Pertumbuhan kedua segmen tersebut menjadi salah satu penopang diversifikasi pendapatan SGER. Dengan semakin beragamnya sumber pendapatan, perseroan mulai mengurangi ketergantungan relatif terhadap bisnis batubara, meskipun komoditas tersebut masih menjadi penyumbang terbesar.
Di sisi lain, tidak seluruh segmen non-batubara mencatatkan pertumbuhan positif. Pendapatan dari segmen nikel turun 52,04% YoY menjadi Rp284,29 miliar. Sementara itu, pendapatan dari produk kelapa sawit merosot 98,77% YoY menjadi Rp1,50 miliar.
Perbedaan kinerja antarsegmen tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis SGER masih berlangsung dengan dinamika yang beragam. Pertumbuhan pasir dan kapur serta kontribusi baru dari kokas minyak bumi menjadi penopang penting, sedangkan penurunan pada segmen nikel dan produk kelapa sawit masih menjadi tantangan.
Aset dan Ekuitas Meningkat pada Semester I-2026
Dari sisi neraca, posisi keuangan SGER juga mengalami peningkatan hingga akhir Juni 2026. Total aset perseroan tercatat sebesar Rp6,01 triliun, tumbuh 6,51% dibandingkan posisi akhir 2025 atau secara year-to-date (YtD).
Pada periode yang sama, total liabilitas meningkat 4,63% YtD menjadi Rp3,43 triliun. Sementara itu, total ekuitas mencapai Rp2,58 triliun, naik 9,10% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekuitas yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan liabilitas menunjukkan adanya penguatan basis permodalan perseroan selama semester I-2026.
Secara keseluruhan, kinerja SGER pada paruh pertama 2026 ditopang oleh pertumbuhan pendapatan konsolidasi, peningkatan laba kotor, serta kontribusi yang semakin besar dari sejumlah segmen non-batubara. Ke depan, kemampuan perseroan menjaga profitabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis di luar batubara akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan diversifikasi pendapatannya.









































