Transformasi besar-besaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur bisnis perusahaan pelat merah.
Tidak hanya memangkas entitas yang merugi, Danantara Indonesia juga melakukan konsolidasi usaha, divestasi aset non-inti, hingga restrukturisasi keuangan untuk memperbaiki kinerja perusahaan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penataan portofolio BUMN yang melibatkan 1.074 perusahaan. Dalam 18 bulan terakhir, Danantara telah menutup 364 perusahaan berskala kecil dan merugi, dengan target jumlah entitas yang ditutup atau dilikuidasi mencapai 750 perusahaan hingga akhir 2026.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria mengungkapkan bahwa target tersebut mencakup penutupan 50 perusahaan di bawah naungan Telkom serta 124 anak usaha Pertamina.
Dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10), Dony mengklaim proses tersebut sebagai salah satu restrukturisasi perusahaan terbesar di dunia.
Menariknya, transformasi berskala besar itu dijalankan tanpa melibatkan jasa konsultan eksternal. Dony menyatakan dirinya memimpin langsung seluruh proses restrukturisasi, termasuk menggelar sedikitnya 12 rapat setiap hari untuk mengawal pelaksanaan berbagai agenda transformasi.
Selain menutup perusahaan yang tidak produktif, Danantara telah melakukan divestasi terhadap 208 perusahaan yang bergerak di luar bisnis inti BUMN.
Sejumlah entitas tersebut merupakan anak usaha BUMN Karya yang memiliki aset atau menjalankan bisnis di sektor yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan konstruksi, seperti perhotelan dan jaringan serat optik.
Perombakan juga menyasar perusahaan yang menghadapi persoalan keuangan. Danantara menerapkan restrukturisasi keuangan secara fundamental terhadap 15 perusahaan, termasuk Krakatau Steel, Kimia Farma, Garuda Indonesia, PT Adhi Karya, dan PT PP.
Di sisi lain, konsolidasi menjadi strategi untuk menyederhanakan struktur perusahaan yang memiliki kegiatan usaha serupa. Langkah ini melibatkan sekitar 200 entitas dari berbagai sektor bisnis BUMN.
Pada sektor logistik, tujuh perusahaan freight forwarding telah dilebur di bawah Pelindo. Sementara itu, sebanyak 60 rumah sakit disatukan ke dalam Indonesia Healthcare Corporation (IHC).
Penataan serupa dilakukan pada sektor perhotelan melalui konsolidasi 72 aset hotel BUMN di bawah pengelolaan Injourney Hospitality atau HIN.
Di industri keuangan, penggabungan lima entitas manajemen investasi yang terkait dengan Mandiri, BNI, BRI, dan PNM telah membentuk perusahaan manajemen aset dengan total dana kelolaan mencapai Rp190 triliun. Dony mengklaim entitas hasil konsolidasi tersebut menjadi manajer aset terbesar di Indonesia.
Transformasi juga menjangkau sektor kawasan industri. Sebanyak 23 entitas digabungkan menjadi satu pengelola dengan total lahan mencapai 16.000 hektare, yang diklaim sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.
Perampingan tersebut belum berhenti. Danantara berencana mengonsolidasikan 16 perusahaan asuransi BUMN menjadi tiga entitas yang masing-masing berfokus pada asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit. Sementara itu, perusahaan sekuritas akan disederhanakan menjadi dua entitas.
Laba Sejumlah BUMN Tumbuh Signifikan
Di tengah berlangsungnya restrukturisasi, Dony menyebut perombakan model bisnis mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan sejumlah BUMN.
Berdasarkan capaian yang dipaparkan hingga Agustus 2026, sejumlah perusahaan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan, antara lain:
- Semen Indonesia (SIG): laba melonjak 427 persen.
- Pupuk Indonesia: laba meningkat 233 persen.
- Danareksa: laba tumbuh 110 persen.
- PTPN III: laba naik 55 persen.
- Pertamina: laba meningkat 48 persen.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang dikemukakan Danantara untuk menunjukkan hasil dari transformasi bisnis yang tengah dijalankan.
Meski sejumlah perusahaan telah memperlihatkan perbaikan kinerja, agenda restrukturisasi masih berlanjut, terutama pada sektor keuangan dan penyederhanaan anak usaha. Tahapan berikutnya akan menjadi bagian penting dalam pembentukan struktur BUMN yang lebih ramping, terintegrasi, dan berfokus pada penguatan bisnis inti.











































