PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Kinerja positif emiten penyedia layanan pusat data atau data center tersebut berlangsung di tengah ekspansi kapasitas yang terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, DCII membukukan pendapatan bersih sebesar Rp2,52 triliun sepanjang Januari–September 2026. Nilai tersebut meningkat 31,48% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibandingkan Rp1,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan perseroan terutama ditopang oleh bisnis jasa colocation, yakni layanan penyediaan ruang dan infrastruktur pusat data bagi pelanggan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, pendapatan dari segmen tersebut mencapai Rp2,38 triliun, meningkat dibandingkan Rp1,79 triliun pada Januari–September 2025.
Sementara itu, pendapatan dari jasa lain-lain turut mengalami kenaikan menjadi Rp144,78 miliar, dari sebelumnya Rp130,26 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Meski pendapatan tumbuh lebih dari 30%, DCII juga menghadapi peningkatan beban pokok pendapatan dengan laju yang lebih tinggi.
Sepanjang Januari–September 2026, beban pokok pendapatan perseroan mencapai Rp1,23 triliun, melonjak 46,56% dibandingkan Rp844,09 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban tersebut membuat pertumbuhan laba kotor lebih rendah dibandingkan peningkatan pendapatan. DCII mencatatkan laba kotor sebesar Rp1,29 triliun, tumbuh 19,69% secara tahunan dari Rp1,07 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Kendati demikian, perseroan masih mampu mempertahankan pertumbuhan laba bersih. Hingga akhir September 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp919,84 miliar.
Perolehan tersebut meningkat 11,50% dibandingkan laba bersih sebesar Rp824,98 miliar pada periode Januari–September 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, laba per saham dasar atau earnings per share (EPS) DCII juga meningkat menjadi Rp386 per saham, dari sebelumnya Rp346 per saham.
Dengan demikian, meskipun peningkatan beban pokok pendapatan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan profitabilitas, DCII tetap membukukan kenaikan laba bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Di tengah pertumbuhan kinerja operasional, DCII juga mencatatkan peningkatan signifikan pada nilai aset perusahaan.
Hingga akhir September 2026, total aset perseroan mencapai Rp10,06 triliun, meningkat 51,38% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp6,64 triliun.
Direktur DCI Indonesia Evelyn menjelaskan bahwa peningkatan aset terutama berasal dari penambahan aset tetap yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas pusat data.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10/2026), Evelyn memaparkan bahwa belanja aset tersebut mencakup penyelesaian pekerjaan fit-out pada sisa kapasitas gedung pusat data JK6 serta pembangunan gedung pusat data baru.
Pembangunan fasilitas tambahan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kapasitas yang telah dikontrak pelanggan.
Selain itu, DCII juga melakukan pembelian cadangan lahan atau landbank baru sebagai bagian dari persiapan ekspansi perusahaan pada masa mendatang.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bisnis DCII tidak hanya berfokus pada optimalisasi fasilitas yang telah tersedia, tetapi juga mencakup penambahan infrastruktur dan penyediaan lahan untuk mendukung pertumbuhan kapasitas berikutnya.
Ekspansi aset dan pembangunan fasilitas pusat data turut diikuti peningkatan kebutuhan pendanaan perusahaan.
Hingga 30 September 2026, total liabilitas DCII tercatat sebesar Rp5,13 triliun atau meningkat 94,45% dibandingkan Rp2,64 triliun pada akhir Desember 2025.
Menurut manajemen, kenaikan liabilitas tersebut terutama berasal dari tambahan pencairan pinjaman jangka panjang yang digunakan untuk membiayai penyelesaian pekerjaan fit-out gedung pusat data JK6 serta pembangunan fasilitas pusat data baru.
Di sisi lain, total ekuitas perseroan juga mengalami pertumbuhan. Pada akhir September 2026, ekuitas DCII mencapai Rp4,92 triliun, meningkat 22,96% dibandingkan Rp4 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Dengan demikian, peningkatan aset DCII sepanjang sembilan bulan pertama 2026 berlangsung seiring dengan bertambahnya pendanaan melalui liabilitas dan penguatan ekuitas perusahaan.
Kebutuhan Pusat Data Indonesia Berpotensi Meningkat Seiring Perkembangan AI
Ekspansi kapasitas yang dilakukan DCII tidak terlepas dari prospek pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital nasional, terutama untuk mendukung perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sebelumnya, Presiden Direktur DCI Indonesia Otto Toto Sugiri memperkirakan kapasitas pusat data aktif di Indonesia masih berada pada kisaran 200 megawatt (MW).
Menurut perhitungannya, Indonesia membutuhkan kapasitas pusat data minimal 2,8 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan komputasi dasar. Perkiraan tersebut bahkan belum memperhitungkan tambahan kebutuhan yang dapat muncul akibat perkembangan teknologi AI.
Otto juga menilai bahwa kebutuhan kapasitas pusat data berpotensi meningkat setidaknya empat kali lipat seiring semakin luasnya pemanfaatan AI.
Perkembangan tersebut dinilai membuka peluang pertumbuhan bagi industri pusat data di Indonesia, baik melalui peningkatan kapasitas fasilitas yang telah beroperasi maupun pembangunan pusat data baru.
Namun, pertumbuhan kebutuhan komputasi juga menuntut investasi yang semakin besar, tidak hanya pada bangunan dan perangkat pusat data, tetapi juga pada infrastruktur pendukungnya.
Salah satu faktor penting dalam pengembangan pusat data adalah ketersediaan pasokan listrik yang memadai dan andal. Selain itu, dukungan jaringan telekomunikasi juga diperlukan untuk memastikan kelancaran konektivitas dan pengolahan data.
Oleh karena itu, pengembangan industri pusat data perlu berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur energi dan telekomunikasi agar peningkatan kebutuhan komputasi dapat terpenuhi.
Bagi DCII, kondisi tersebut menghadirkan peluang untuk melanjutkan ekspansi kapasitas sekaligus memperkuat posisinya dalam industri pusat data nasional. Meski demikian, pertumbuhan bisnis ke depan tetap akan bergantung pada kemampuan perseroan mengoptimalkan investasi, mengelola kebutuhan pendanaan, serta memenuhi permintaan pelanggan.
Dengan pendapatan yang tumbuh 31,48% dan laba bersih meningkat 11,50% hingga September 2026, DCII menunjukkan pertumbuhan kinerja di tengah ekspansi infrastruktur yang cukup besar.
Perkembangan kapasitas pusat data, realisasi investasi, serta pengelolaan beban operasional dan pendanaan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pertumbuhan perseroan.










































