PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat pertumbuhan kinerja yang signifikan sepanjang semester I/2026. Di tengah lonjakan pendapatan, laba bersih perseroan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mencatat pertumbuhan lebih tajam, mencapai 902,5% secara tahunan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Petrosea hingga Juni 2026 mencapai US$543,98 juta. Angka tersebut meningkat sekitar 59% dibandingkan dengan pendapatan pada semester I-2025 sebesar US$340,94 juta.
Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh segmen penambangan yang memberikan kontribusi US$300,43 juta. Berikutnya, segmen konstruksi dan rekayasa menyumbang US$196,56 juta, EPCI minyak dan gas lepas pantai sebesar US$28,21 juta, jasa US$17,82 juta, serta segmen lainnya sebesar US$944 ribu.
Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada laba kotor. Petrosea membukukan laba kotor sebesar US$47,03 juta pada semester I-2026, sedikit menurun dibandingkan dengan US$48,30 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya beban usaha langsung. Pos ini melonjak dari US$292,64 juta pada semester I-2025 menjadi US$496,96 juta pada semester I-2026. Kenaikan beban tersebut membuat margin laba kotor perseroan mengalami tekanan meskipun pendapatan tumbuh signifikan.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah pos beban operasional. Beban penjualan dan administrasi meningkat dari US$15,41 juta menjadi US$20,07 juta. Sementara itu, beban bunga dan keuangan naik cukup tajam dari US$20,78 juta menjadi US$33,43 juta.
Di sisi lain, penghasilan bunga tercatat menurun menjadi US$1,09 juta dari sebelumnya US$1,67 juta. Beban pajak final juga meningkat menjadi US$5,36 juta pada semester I-2026.
Meski menghadapi tekanan dari sisi biaya, kinerja Petrosea memperoleh dukungan dari pos keuntungan dan kerugian lain-lain. Pos tersebut berbalik menjadi keuntungan sebesar US$15,03 juta, dari sebelumnya mencatatkan kerugian US$3,36 juta.
Perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja laba perseroan. Kendati demikian, laba sebelum pajak dari operasi yang dilanjutkan tercatat US$4,27 juta, turun dibandingkan US$7,85 juta pada semester I-2025.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar US$2,72 juta, laba periode berjalan dari operasi yang dilanjutkan mencapai US$1,55 juta. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan US$4,13 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontributor penting terhadap lonjakan laba justru berasal dari operasi yang dihentikan atau discontinued operations. Segmen tersebut membukukan laba sebesar US$7,62 juta pada semester I-2026, berbalik dari kerugian US$2,84 juta pada semester I-2025.
Tambahan laba dari operasi yang dihentikan tersebut mengangkat laba periode berjalan Petrosea secara keseluruhan menjadi US$9,17 juta. Realisasi ini melonjak dibandingkan dengan US$1,29 juta pada semester I-2025.
Pada akhirnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$10,78 juta. Nilai tersebut meroket 902,5% dari US$1,07 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset Petrosea per Juni 2026 tercatat sebesar US$1,52 miliar, menurun dari US$1,58 miliar pada akhir Desember 2025. Sementara itu, total liabilitas mencapai US$1,20 miliar dan total ekuitas sebesar US$321,28 juta.
Di tengah perubahan struktur aset tersebut, posisi likuiditas perseroan justru menunjukkan peningkatan. Saldo kas dan setara kas pada akhir periode mencapai US$80,39 juta, naik dari US$65,85 juta pada akhir tahun sebelumnya.
Dengan demikian, kinerja semester I-2026 menunjukkan adanya kontras dalam laporan keuangan Petrosea. Pendapatan tumbuh kuat, sementara margin laba kotor menghadapi tekanan akibat kenaikan beban.
Di sisi lain, pembalikan kinerja operasi yang dihentikan serta perubahan pada pos keuntungan dan kerugian lain-lain memberikan kontribusi penting terhadap lonjakan laba bersih perseroan.









































