PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp8,05 triliun hingga Juli 2026. Perolehan tersebut ditopang sejumlah proyek strategis di berbagai lini bisnis perseroan, terutama sektor infrastruktur dan bangunan gedung.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin mengatakan sektor infrastruktur dan bangunan gedung menjadi penyumbang terbesar dengan nilai kontrak baru Rp2,94 triliun atau sekitar 36,52% dari total perolehan.
Selanjutnya, sektor industri penunjang konstruksi menyumbang Rp2,62 triliun atau 32,56%. Sementara itu, sektor energi dan industrial plant atau EPCC berkontribusi Rp2,11 triliun, setara 26,21% dari total kontrak baru hingga Juli 2026.
Adapun kontribusi dari sektor properti tercatat sebesar Rp234,06 miliar atau 2,91%. Sementara sektor investasi menyumbang Rp144,81 miliar atau sekitar 1,8%.
Di tengah upaya meningkatkan perolehan kontrak, WIKA juga masih berfokus pada agenda restrukturisasi keuangan. Perseroan tengah menjalankan restrukturisasi secara komprehensif dengan para kreditur, yang mencakup perbankan, pemegang obligasi, maupun pemegang sukuk.
Restrukturisasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kondisi keuangan perseroan. Sebagian besar utang WIKA sebelumnya digunakan untuk membiayai proyek penugasan dan investasi jangka panjang perusahaan.
Manajemen berharap proses restrukturisasi dapat mencapai kesepakatan dengan seluruh kreditur. Kesepakatan tersebut diharapkan mampu menekan beban keuangan dan kerugian sekaligus menjaga keberlangsungan usaha perseroan.
Selain restrukturisasi utang, WIKA juga terus mengupayakan divestasi terhadap sejumlah aset investasinya. Langkah tersebut sejalan dengan arahan pemegang saham mayoritas agar perseroan kembali memperkuat fokus pada bisnis inti atau core business.
Divestasi aset investasi tersebut juga diharapkan memberikan ruang bagi WIKA untuk memperbaiki struktur permodalan. Hasil divestasi nantinya dapat digunakan untuk menurunkan jumlah pokok utang kepada kreditur.
Dengan demikian, strategi WIKA saat ini berjalan pada dua sisi, yakni mempertahankan pertumbuhan melalui perolehan kontrak baru sekaligus memperbaiki kesehatan keuangan melalui restrukturisasi dan optimalisasi aset. Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah proses pemulihan kinerja.









































