PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mulai memperkuat pijakan bisnisnya di pasar internasional dengan membidik pertumbuhan ekspor dua digit dalam jangka panjang. Strategi tersebut akan diarahkan terutama pada penguatan penjualan di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN yang selama ini menjadi pasar utama ekspor perseroan.
Direktur Keuangan Kalbe Farma Kartika Setiabudy mengatakan kontribusi ekspor terhadap total penjualan perseroan saat ini masih berada di bawah 10%. Mengingat porsinya yang masih relatif kecil, peningkatan kontribusi ekspor akan dilakukan secara bertahap seiring dengan perluasan pasar internasional.
Meski demikian, kinerja ekspor Kalbe Farma dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Perseroan melihat peluang untuk mendorong pertumbuhan bisnis ekspor agar dapat melampaui pertumbuhan penjualan di pasar domestik dalam jangka panjang.
Hingga 30 Juni 2026, Kalbe Farma membukukan penjualan bersih sebesar Rp19,47 triliun, meningkat 14,04% secara tahunan. Dari total tersebut, penjualan domestik mencapai Rp18,04 triliun, sedangkan kontribusi dari pasar ekspor sebesar Rp1,43 triliun.
Pertumbuhan segmen ekspor bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total penjualan perseroan. Pada semester I 2026, penjualan ekspor meningkat 23,66% secara tahunan dari Rp1,15 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp1,43 triliun.
Capaian tersebut menjadi pijakan bagi Kalbe Farma untuk terus memperluas bisnis di luar negeri. Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian utama karena perseroan masih melihat ruang pertumbuhan dari negara-negara yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor.
Kalbe Farma akan memperkuat penetrasi pasar regional dengan menyesuaikan produk yang ditawarkan terhadap kebutuhan dan karakteristik masing-masing negara tujuan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerimaan produk perseroan sekaligus memperbesar kontribusi penjualan internasional secara bertahap.
Di sisi lain, ekspansi ekspor juga memiliki manfaat strategis bagi Kalbe Farma dari sisi pengelolaan risiko nilai tukar. Peningkatan pendapatan dalam mata uang asing diharapkan dapat berfungsi sebagai natural hedging, sehingga membantu perseroan mengurangi dampak volatilitas kurs terhadap kinerja keuangan.
Dengan pertumbuhan ekspor yang telah melampaui 20% pada semester I 2026 dan peluang yang masih terbuka di kawasan ASEAN, Kalbe Farma menempatkan pasar internasional sebagai salah satu mesin pertumbuhan jangka panjang.
Perseroan pun berupaya meningkatkan kontribusi ekspor tanpa mengabaikan kekuatan bisnis di pasar domestik.











































