Penurunan volume produksi dan penjualan batu bara tidak menghalangi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Di tengah tantangan operasional dan meningkatnya biaya bahan bakar, emiten pertambangan batu bara ini justru berhasil meningkatkan profitabilitas berkat penguatan harga jual dan pengelolaan biaya yang lebih efisien.
Hingga kuartal III-2026, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp 4,41 triliun, melonjak 216,3% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp 1,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 12,4% YoY menjadi Rp 35,20 triliun, dari sebelumnya Rp 31,33 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan, pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan ditopang oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III-2026, optimalisasi bauran penjualan, serta disiplin dalam pengelolaan biaya dan operasional.
Menurutnya, perusahaan mampu memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara untuk menjaga pertumbuhan kinerja keuangan meskipun menghadapi dinamika industri dan berbagai tantangan operasional sepanjang tahun ini.
Hal tersebut tercermin dari peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara PTBA sebesar 18% YoY. Penguatan harga jual ini sejalan dengan kenaikan indeks harga batu bara Newcastle dan ICI-3, yang masing-masing meningkat 25% dan 26% secara tahunan.
Kenaikan harga tersebut menjadi faktor penting dalam menopang pendapatan perusahaan, mengingat volume produksi maupun penjualan batu bara PTBA masih mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang Januari–September 2026, produksi batu bara PTBA tercatat sebesar 34,41 juta ton, turun 4,1% dari 35,90 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, volume penjualan menyusut 4,4% YoY menjadi 32,23 juta ton dari sebelumnya 33,70 juta ton. Volume angkutan batu bara juga turun 9,8% menjadi 27,08 juta ton.
Dari total penjualan tersebut, pasar domestik masih menjadi kontributor terbesar dengan volume mencapai 16,62 juta ton atau sekitar 51,5%. Adapun penjualan ekspor tercatat sebesar 15,61 juta ton, setara 48,5% dari keseluruhan penjualan.
Lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor batu bara PTBA meliputi:
- Bangladesh
- Vietnam
- India
- Kamboja
- Thailand
Efisiensi Biaya Dorong Pertumbuhan Laba PTBA
Selain memperoleh keuntungan dari kenaikan harga jual, PTBA berhasil menjaga pertumbuhan biaya agar tetap lebih rendah dibandingkan peningkatan pendapatannya.
Hingga September 2026, beban pokok pendapatan perusahaan hanya meningkat 0,6% YoY menjadi Rp 27,94 triliun. Kenaikan yang relatif terbatas tersebut terjadi meskipun harga bahan bakar melonjak 36% secara tahunan dan menambah tekanan terhadap biaya penambangan maupun pengangkutan batu bara.
PTBA mampu meredam tekanan tersebut melalui perbaikan rasio pengupasan tanah atau stripping ratio, yang turun dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Penurunan volume produksi dan angkutan turut membatasi pertumbuhan beban operasional perusahaan.
Kombinasi antara kenaikan pendapatan dan pengendalian biaya ini mendorong laba kotor PTBA melonjak 103,9% YoY menjadi Rp 7,27 triliun.
Pertumbuhan yang lebih tinggi terjadi pada laba usaha, yang meningkat 220,3% menjadi Rp 5,11 triliun. Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA tumbuh 102,2% menjadi Rp 7,19 triliun.
Dengan pencapaian tersebut, PTBA membukukan margin laba bersih sebesar 13% dan margin EBITDA mencapai 20%.
Perbaikan profitabilitas juga didukung oleh penurunan biaya keuangan sebesar 45% YoY menjadi Rp 136,52 miliar. Penurunan tersebut terutama berasal dari berkurangnya beban bunga setelah perusahaan menyelesaikan fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025.
Di sisi lain, kontribusi laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama meningkat 75% menjadi Rp 581,31 miliar, sehingga turut memperkuat kinerja keuangan perusahaan.
Aset PTBA Tumbuh 17,4%, Kas Capai Rp 4,89 Triliun
Sejalan dengan peningkatan kinerja keuangan, posisi aset PTBA juga mengalami pertumbuhan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Per 30 September 2026, total aset perusahaan mencapai Rp 51,55 triliun, meningkat 17,4% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 43,92 triliun.
Pada periode yang sama, total liabilitas naik 14,1% menjadi Rp 24,31 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh lebih tinggi, yakni 20,4% menjadi Rp 27,24 triliun.
Posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 4,89 triliun, meningkat 8,1% dibandingkan akhir tahun lalu. Sementara itu, pinjaman bank bertambah 30,5% menjadi Rp 4,21 triliun, termasuk fasilitas pinjaman back-to-back yang dijamin melalui penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Dari sisi arus kas, perusahaan membukukan kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 4,44 triliun, meningkat 5,7% secara tahunan.
Adapun kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp 3,50 triliun, terutama dipengaruhi oleh penempatan deposito berjangka terkait DHE.
Sementara itu, kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan turun menjadi Rp 700 miliar, antara lain karena pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Target Produksi 49,55 Juta Ton pada 2026
Memasuki tiga bulan terakhir tahun ini, PTBA masih memiliki sejumlah target operasional yang perlu dicapai untuk memenuhi rencana bisnis sepanjang 2026.
Perusahaan menetapkan target produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton, dengan volume penjualan yang direncanakan mencapai 49,51 juta ton dan volume angkutan sebesar 41 juta ton.
Dengan realisasi hingga September 2026, pencapaian target operasional PTBA adalah sebagai berikut:
| Indikator | Realisasi 9M-2026 | Target 2026 |
| Produksi batu bara | 34,41 juta ton | 49,55 juta ton |
| Penjualan batu bara | 32,23 juta ton | 49,51 juta ton |
| Angkutan batu bara | 27,08 juta ton | 41,00 juta ton |
Untuk mendukung target tersebut, PTBA mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 3,64 triliun pada 2026, dengan target stripping ratio sebesar 5,63 kali.
Bambang menyampaikan bahwa perusahaan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis sekaligus mengoptimalkan peluang penjualan di pasar domestik maupun ekspor.
Selain itu, PTBA akan mendorong pengembangan infrastruktur logistik agar dapat mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Di luar upaya meningkatkan kinerja bisnis batu bara, perusahaan juga melanjutkan langkah diversifikasi sebagai bagian dari strategi transformasi usaha.
Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menjelaskan, perusahaan berkomitmen memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian berbagai proyek strategis.
Pada saat yang sama, PTBA terus mengembangkan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan.
Melalui strategi tersebut, PTBA berupaya memperkuat daya saing sekaligus memperluas sumber pertumbuhan usaha dalam jangka panjang, sehingga perkembangan bisnis perusahaan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga dan permintaan batu bara.










































