Meningkatnya kebutuhan layanan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), dan penyimpanan data membuka peluang pertumbuhan bagi industri pusat data di Indonesia.
Prospek ini turut mendorong PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memperkuat ekspansi bisnis infrastruktur digitalnya.
Emiten yang selama ini mengandalkan bisnis energi tersebut mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi lahan seluas 16,63 hektare senilai Rp 3,1 triliun untuk mendukung pengembangan pusat data atau data center.
Transaksi tersebut dilakukan melalui anak usaha DSSA, SMPlus Cakrawala Cipta Gemilang (SMCCG), yang membeli lahan seluas 166.261 meter persegi dari Surya Inter Wisesa (SIW), anak usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).
Investasi bernilai triliunan rupiah ini memperlihatkan keseriusan DSSA memperluas bisnis digital. Namun, langkah tersebut belum serta-merta memberikan tambahan pendapatan maupun laba karena pengembangan fasilitas pusat data masih membutuhkan investasi dan waktu.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai prospek bisnis pusat data DSSA cukup menjanjikan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi untuk mendukung perkembangan AI, layanan cloud, dan penyimpanan data di Indonesia.
Peluang pertumbuhan tersebut mulai terlihat dalam kinerja segmen teknologi dan infrastruktur digital DSSA yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan signifikan sepanjang semester I-2026.
Pendapatan segmen ini melonjak 89,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$ 182,2 juta. Meski demikian, bisnis energi masih menjadi penyumbang utama pendapatan perseroan.
Secara konsolidasi, DSSA membukukan pendapatan sebesar US$ 1,77 miliar pada semester I-2026, meningkat 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh lebih tinggi, yakni 79,6% YoY menjadi US$ 174,4 juta.
Kendati kinerja bisnis digital menunjukkan perkembangan positif, Elandry mengingatkan bahwa kontribusi investasi lahan terbaru terhadap keuangan DSSA baru akan terlihat setelah fasilitas pusat data selesai dibangun, mulai beroperasi, dan memperoleh pelanggan.
Dalam wawancara tertulis pada Kamis (29/10/2026), ia memperkirakan dampak ekspansi tersebut terhadap pendapatan dan laba perseroan lebih berpeluang terealisasi dalam jangka menengah.
Realisasinya akan sangat bergantung pada kelancaran pembangunan fasilitas, kesiapan infrastruktur pendukung, serta permintaan pelanggan terhadap kapasitas pusat data yang ditawarkan.
Ekspansi Data Center DSSA Masih Menghadapi Sejumlah Tantangan
Senada dengan Elandry, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang akuisisi lahan tersebut sebagai langkah awal yang dapat memperkuat fondasi ekspansi bisnis pusat data DSSA.
Ketersediaan lahan yang luas memberikan ruang bagi perseroan untuk mengembangkan kapasitas pusat data secara bertahap, dengan mempertimbangkan perkembangan kebutuhan pasar.
Namun, Nafan menekankan bahwa kepemilikan lahan belum dapat menghasilkan pendapatan secara langsung. DSSA masih perlu mengalokasikan investasi tambahan untuk membangun fasilitas beserta infrastruktur penunjangnya.
Kebutuhan tersebut antara lain mencakup:
- Pasokan listrik, untuk menjamin kelangsungan operasional fasilitas pusat data.
- Sistem pendingin, untuk menjaga kestabilan suhu perangkat komputasi.
- Infrastruktur konektivitas, untuk mendukung keandalan layanan dan pertukaran data.
Selain kesiapan infrastruktur, keberhasilan investasi juga bergantung pada kemampuan perseroan memperoleh pelanggan berkualitas dan mempertahankan tingkat keterisian atau utilisasi fasilitas.
Dengan demikian, pembangunan kapasitas pusat data yang besar belum tentu langsung menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang optimal apabila tidak diimbangi permintaan pelanggan.
Nafan juga mengingatkan adanya sejumlah risiko keuangan yang perlu diperhatikan. Kebutuhan belanja modal yang besar dan sumber pendanaan menjadi faktor penting, terutama selama fasilitas masih dalam tahap pembangunan.
Di sisi lain, potensi keterlambatan konstruksi serta beban depresiasi dapat menekan profitabilitas perseroan sebelum fasilitas pusat data mencapai tingkat operasional yang optimal.
Bagaimana Prospek Saham DSSA?
Di tengah peluang pertumbuhan bisnis digital tersebut, kedua analis menilai investor tetap perlu mencermati perkembangan fundamental DSSA sebelum mengambil keputusan investasi.
Nafan merekomendasikan sikap wait and see terhadap saham DSSA karena pergerakan harganya dinilai masih berada dalam fase markdown atau kecenderungan penurunan harga.
Menurutnya, investor perlu mempertimbangkan valuasi saham, perkembangan fundamental perusahaan, serta kemajuan realisasi ekspansi pusat data untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai prospek investasi DSSA.
Sementara itu, Elandry menyarankan investor memperhatikan sejumlah indikator keuangan dan operasional, terutama pertumbuhan laba, arus kas, serta tingkat utilisasi fasilitas pusat data.
Indikator tersebut dapat menjadi tolok ukur untuk menilai kemampuan DSSA mengubah investasi infrastruktur digital menjadi sumber pendapatan dan keuntungan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan ekspansi pusat data DSSA tidak hanya akan ditentukan oleh besarnya nilai investasi atau luas lahan yang dikuasai.
Kemampuan perseroan menyelesaikan pembangunan, mengamankan kebutuhan infrastruktur, dan memperoleh pelanggan akan menjadi faktor penentu apakah bisnis digital dapat berkembang menjadi kontributor laba yang semakin signifikan dalam beberapa tahun mendatang.










































