PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melalui anak usahanya, PT Surya Dhoho Investama, resmi mengambil alih pengelolaan Bandar Udara Dhoho di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Perubahan pengelolaan tersebut menandai babak baru dalam operasional bandara yang sebelumnya berada di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura Indonesia.
Perubahan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP-DJPU 216 Tahun 2026 tentang Penetapan Bandar Udara yang Dikelola oleh PT Surya Dhoho Investama. Keputusan tersebut diterbitkan pada 25 September 2026.
Pada tanggal yang sama, Kementerian Perhubungan juga menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP-DJPU 217 Tahun 2026. Keputusan tersebut mengubah Keputusan Nomor KP 204 DJPU Tahun 2024 mengenai penetapan bandar udara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura Indonesia (Persero).
Corporate Secretary Group Head PT Angkasa Pura Indonesia Arie Ahsanurrohim menjelaskan bahwa berdasarkan kedua keputusan tersebut, Bandara Dhoho di Kabupaten Kediri secara resmi ditetapkan sebagai bandar udara yang dikelola oleh PT Surya Dhoho Investama.
Perubahan pengelolaan tersebut kemudian disampaikan PT Angkasa Pura Indonesia sebagai informasi atau fakta material kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dibangun dengan Investasi Rp13 Triliun
Bandara Dhoho Kediri memiliki sejarah pembangunan yang tidak terlepas dari investasi Gudang Garam. Sebelum memasuki fase pengelolaan oleh PT Surya Dhoho Investama, bandara tersebut dibangun oleh GGRM dengan nilai investasi awal mencapai Rp13 triliun.
Pembangunan Bandara Dhoho dirancang dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan penumpang dalam jangka panjang. Infrastruktur tersebut diproyeksikan mampu mencapai kapasitas ultimate hingga 10 juta penumpang dalam kurun waktu 50 tahun mendatang.
Pada tahap pertama, pembangunan mencakup sejumlah fasilitas utama dan pendukung operasional bandara. Infrastruktur tersebut meliputi terminal penumpang, terminal kargo, bangunan penunjang operasional, bangunan PK-PPK, menara pengawas lalu lintas udara atau air traffic control tower, jalan, landasan pacu, apron, taxiway, serta runway end safety area (RESA).
Tahap pertama pembangunan telah rampung dengan total investasi sekitar Rp13 triliun. Setelah penyelesaian tahap tersebut, Bandara Dhoho memiliki kapasitas pelayanan hingga 1,5 juta penumpang.
Pengembangan bandara selanjutnya direncanakan dilakukan secara bertahap mengikuti kebutuhan kapasitas dan pertumbuhan trafik. Tahap kedua diproyeksikan mulai pada 2035 dengan pengembangan terminal penumpang, fasilitas kargo, apron, dan taxiway.
Sementara itu, tahap ketiga juga akan mencakup pengembangan terminal, fasilitas kargo, serta apron.
Dengan beralihnya pengelolaan kepada PT Surya Dhoho Investama, pengembangan Bandara Dhoho memasuki fase baru. Pengelolaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk mengembangkan kapasitas dan fasilitas bandara sesuai dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan transportasi udara di wilayah Kediri dan sekitarnya.














































