PT Astra International Tbk (ASII) tercatat belum menggunakan anggaran belanja modalnya secara agresif sepanjang paruh pertama 2026.
Hingga semester I, perseroan baru merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp17 triliun dari total anggaran Rp36 triliun yang disiapkan untuk tahun ini.
Dengan demikian, realisasi capex Astra International hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar 47,2% dari total anggaran tahunan. Capaian tersebut menunjukkan perseroan masih memiliki ruang untuk mengalokasikan sisa anggaran pada paruh kedua tahun ini.
Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti menjelaskan bahwa sebagian besar realisasi capex sepanjang semester I 2026 digunakan untuk mendukung aksi korporasi PT United Tractors Tbk (UNTR), khususnya akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam.
Di luar kebutuhan akuisisi tersebut, belanja modal Astra International juga diarahkan untuk kebutuhan rutin operasional. Porsi terbesar digunakan untuk pengadaan alat berat yang mendukung kegiatan bisnis kontraktor pertambangan dalam ekosistem United Tractors.
Memasuki sisa tahun berjalan, Astra International akan menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran capex yang masih tersedia. Perseroan akan memprioritaskan pengeluaran yang dinilai dapat menopang pertumbuhan dan pengembangan bisnis ke depan.
Evaluasi terhadap penggunaan belanja modal juga akan dilakukan secara berkala. Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan setiap investasi yang dikeluarkan dapat mendukung produktivitas dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan bisnis perseroan.
Dengan total anggaran capex Rp36 triliun untuk 2026, Astra International masih memiliki sekitar Rp19 triliun ruang belanja modal hingga akhir tahun. Pengalokasian dana tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan hasil evaluasi atas kontribusinya terhadap produktivitas perseroan.













































