Di tengah upaya penyehatan keuangan, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan pertumbuhan kontrak baru yang signifikan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Emiten konstruksi pelat merah ini berhasil meningkatkan perolehan kontrak sekaligus mempertahankan strategi selektif dalam memilih proyek.
Hingga akhir September 2026, WIKA mengantongi kontrak baru senilai Rp9,78 triliun, melonjak 57,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,20 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh proyek dari berbagai sektor, terutama industri penunjang konstruksi, infrastruktur, dan energi. Perolehan kontrak ini juga menunjukkan bahwa WIKA masih mendapatkan kepercayaan dari sejumlah pemberi kerja, khususnya badan usaha milik negara (BUMN) dan pemerintah.
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin menjelaskan bahwa peningkatan kontrak baru mencerminkan kepercayaan pemberi kerja terhadap perseroan yang tetap terjaga di tengah proses penyehatan keuangan.
Dalam keterangannya pada Rabu (4/11/2026), Ngatemin menjelaskan bahwa WIKA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengikuti tender. Perseroan memprioritaskan proyek dengan sumber pendanaan yang jelas dan skema pembayaran yang sehat untuk mendukung perbaikan kondisi keuangan.
Selain menjaga kualitas portofolio kontrak, WIKA juga berkomitmen menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur yang berkualitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Industri Penunjang Konstruksi Dominasi Kontrak Baru WIKA
Berdasarkan komposisi bisnisnya, industri penunjang konstruksi menjadi kontributor terbesar terhadap perolehan kontrak baru WIKA hingga September 2026.
Segmen tersebut menyumbang 36,3 persen dari total kontrak baru, diikuti infrastruktur dan gedung sebesar 31,3 persen. Sementara itu, sektor energi dan industrial plant berkontribusi 27,2 persen, sedangkan properti dan investasi sebesar 5,2 persen.
Dengan demikian, tiga segmen utama, yakni industri penunjang konstruksi, infrastruktur dan gedung, serta energi dan industrial plant, secara keseluruhan menyumbang 94,8 persen terhadap kontrak baru perseroan.
Dari sisi pemberi kerja, BUMN masih mendominasi dengan kontribusi 49,5 persen. Selanjutnya, proyek pemerintah menyumbang 29,1 persen, sedangkan sektor swasta berkontribusi 19,5 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan besarnya peran proyek BUMN dan pemerintah dalam menopang perolehan kontrak WIKA. Kedua kelompok pemberi kerja itu secara keseluruhan menyumbang 78,6 persen dari total kontrak baru perseroan.
Garap Sejumlah Proyek Infrastruktur dan Fasilitas Publik
Peningkatan kontrak baru WIKA juga diiringi keterlibatan perseroan dalam berbagai proyek infrastruktur yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Pada sektor konektivitas, WIKA mengerjakan proyek Jalan Bebas Hambatan Seksi 6B di Kalimantan Timur. Perseroan juga terlibat dalam penanganan darurat Jalan Nasional Sibolga–Padang Sidempuan di Sumatera Utara.
Selain pembangunan jalan, WIKA menggarap proyek yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air dan pengendalian genangan.
Sejumlah pekerjaan tersebut meliputi rehabilitasi Sungai Tukka di Sumatera Utara, pembangunan irigasi dan perpipaan CISP Nipah Kuning B dan Martapura B di Kalimantan Barat, serta penanganan genangan melalui proyek Drainase Primer Sungai Kera Hilir.
Sementara itu, pada sektor bangunan gedung, perseroan turut mengerjakan pembangunan Sekolah Garuda di Kalimantan Utara dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Weda di Maluku Utara.
WIKA juga terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas madrasah serta fasilitas kesehatan di Aceh.
Keterlibatan dalam berbagai proyek tersebut menjadi bagian dari aktivitas bisnis WIKA di sektor infrastruktur sekaligus mendukung penyediaan fasilitas transportasi, pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan sumber daya air.
WIKA Raih Proyek Revitalisasi Pabrik Baja di Cikarang
Di luar proyek infrastruktur dan fasilitas publik, WIKA turut memperluas portofolio pekerjaan di sektor industri melalui kontrak revitalisasi fasilitas produksi baja.
Pada September 2026, perseroan memperoleh kontrak pekerjaan sipil untuk proyek revitalisasi (revamping) fasilitas hot-side pabrik baja profil (beam plant) BP1 milik PT Garuda Yamato Steel (GYS) di Cikarang, Jawa Barat.
Dalam proyek tersebut, WIKA bertanggung jawab atas pekerjaan konstruksi fondasi dan struktur, termasuk pada area tungku pemanas ulang (reheating furnace) yang menjadi bagian dari fasilitas produksi baja.
Pekerjaan revitalisasi ini ditargetkan rampung pada April 2027.
Proyek tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas produksi beam plant BP1 milik GYS dari sebelumnya 400.000 ton menjadi 540.000 ton per tahun.
Artinya, revitalisasi fasilitas tersebut ditargetkan menambah kapasitas produksi sebesar 140.000 ton per tahun atau meningkat 35 persen dari kapasitas sebelumnya.
Selain meningkatkan kapasitas, modernisasi fasilitas produksi juga diarahkan untuk memperbaiki keandalan operasional, efisiensi proses produksi, dan kualitas produk baja yang dihasilkan.
Peningkatan kemampuan produksi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri baja nasional dalam memenuhi kebutuhan material bagi sektor konstruksi, infrastruktur, energi, dan manufaktur.
Bagi WIKA, keterlibatan dalam proyek revitalisasi pabrik baja ini sekaligus menambah portofolio pekerjaan konstruksi fasilitas industri, melengkapi proyek infrastruktur dan bangunan gedung yang menjadi bagian penting dari aktivitas bisnis perseroan.










































